Sebuah Cerpen…

Aisyah (I am a Moslem…)


image001

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorangpun yang akan dirugikan walau sedikit, sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti kami akan mendatangkan pahala. Dan cukuplah kami yang membuat perhitungan.” (Q.S Al-Anbiya’: 47).

Pagi yang indah, angin meniupkan aroma kesegaran yang melenakan. Seorang gadis bertubuh sintal buru-buru masuk kesebuah gedung megah, markas stasiun TV ternama di kota New York, FDO TV.

”Aisyah, kamu di panggil Bos diruangannya!” seru Resepsionis menyambut kedatangan gadis yang dipanggil Aisyah itu.

Thank’s Jane…!”

Gadis bernama Aisyah itu pergi menaiki lift dan kemudian masuk keruangan Pemimpin Redaksi.

”Anda memanggil saya, Tuan Broke?”

”Oh…Aisyah…silahkan masuk. Anda cantik sekali pagi ini!” Tuan Broke sang pemimpin redaksi memuji Aisyah

”Terima Kasih tuan.”

”Ada yang ingin saya bicarakan pada anda, miss Aisyah. Ini akan sangat berpengaruh dengan karir jurnalistik anda. Dan ini akan sangat memberi kesan yang mendalam bagi anda.”

”Apa itu tuan, anda membuat saya penasaran?”

”Sesuai hasil rapat, kami memutuskan anda dan Robert untuk meliput ke Palestina?”

Aisyah terkejut. Hal yang selama ini dia mimpi-mimpikan akhirnya terwujud juga.

”Yang benar Tuan? Anda tidak bohong kan?” tanya Aisyah girang.

”Ya. Saya tidak berbohong. Senin depan anda dan Robert akan berangkat. Rute kalian adalah ke Israel terlebih dahulu, kalian akan didata dikedutaan kita disana, setelah itu baru kalian akan ke Palestina, melalui jalur darat.”

”Baik Tuan Broke. Terima kasih banyak.”

”Ingat persiapkan fisik dan mental mu!”

Aisyah mengangguk dan keluar dari ruangan Tuan Broke.

Aisyah adalah gadis manis yang terlahir dari orangtua mualaf asli Amerika, Tuan Abdullah Yusuf Wilson dan Fatma Wilson. Selama satu tahun ini, Aisyah bekerja di FDO TV sebagai reporter. Orangtuanya adalah muslim yang taat telah banyak menanamkan agama kepadanya. Setiap tahun keluarga ini selalu menyumbangkan sebagian harta mereka untuk saudara-saudara mereka yang tertimpa bencana, taka terkecuali Palestina. Melalui perusahaan Propertinya, Tuan Abdullah dan keluarganya mayisihkan hartanya untuk disumbangkan.

Aisyah sangat rajin melakukan ibadah kepada Allah bersama-sama orangtuanya serta adiknya Syamill. Waktu kecil Aisyah terbiasa memakai jilbab, tapi ketika dia mulai kuliah, dia melepaskan jilbabnya karna tidak tahan mendapat diskriminasi dari orang-orang non-muslim, terlebih-lebih banyak terjadinya islamfobia pasca peristiwa 11 September.

”Dengan siapa, kamu kesana Aisyah?” tanya Mama Aisyah ketika dia meminta izin pada orangtuanya.

”Robert Ma, dia kameraman yang biasa bersama-sama saya ketika membuat liputan.”

”Kapan kalian akan pergi?” tanya Papa nya

”Senin depan, Pa!”

”Satu hal yang perlu kamu ingat anakku, rakyat Palestina adalah saudara kita. Mereka membutuhkan bantuan kita. Yang Ayah inginkan dari kamu adalah, lakukan lah sesuatu walaupun kecil untuk mereka.” Papa nya memberi wejangan.

”Disana pakailah kembali jilbabmu, kunjungilah Al-Aqsa yang agung, dan banyak-banyak lah berdoa biar selalu dimudahkan.”

Z Z Z

Bandara New York,

”Ingat Aisyah kata-kata Papa kemarin, jangan sampai kau melupakan hal itu.”

”Baik Pa.”

”Aisyah, kamu hati-hati ya. Mama akan selalu mendoakamu.”

”Ya Ma, Insyaallah.”

Mereka kemudian berangkat, nyonya Fatma menangisi kepergian anaknya.

Aisyah dan Robert duduk satu bangku. Tapi mereka dibatasi oleh seorang wanita tua ditengah-tengahnya.

”Robert, aku masih tidak percaya kita akan ke Palestina. Serasa mimpi. kata Aisyah ketika berada di pesawat.

”Tidak Aisyah. Ini bukan mimpi tapi kenyataan. Tapi kita harus tetap hati-hati, soalnya banyak wartawan-wartawan internasional yang kena bomnya Israel.”

”Israel memang baidab!”

”Israel tidak akan menyerang Gaza, apabila Hamas tidak menyerang Israel lebih dulu.”

”Aku kira itu wajar Robert. Serangan HAMAS adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap penjajahan Israel atas tanah kelahiran mereka. Dan negara kita mendukung Israel.”

”Ya, sudah tentu. Kau tau kalau negara kita ini telah dikuasai oleh orang-orang Yahudi.”

”Kalau kita membicarakan Palestina-Israel tidak pernah habis-habisnya. Ya sudahlah, bangunkan aku bila kita sampai.” Aisyah memejamkan matanya.

Mereka akhinya sampai di bandara di Tel. Aviv. Aisyah dan Robert memeriksa barang-barangnya. Selanjutnya mereka telah dijemput utusan dari FDO TV menuju kedutaan AS.

”Aisyah, kau tadi tidurnya ngorok…”

”Sssttt…awas kau nanti…”

Setelah segala urusan administrasi lancar dilaksanakan. Akses mereka masuk ke Gaza pun tidak begitu dipersulit oleh aparat di Israel. Aisyah dan Robert bersiap-siap hari itu juga berangkat ke Gaza dan terlebih dahulu masuk ke Tepi Barat untuk liputan pertama.

”Gaza, aku datang…”

Melalui jalur darat, mereka berangkat dengan menggunakan kendaraan FDO TV yang telah disiapkan.

Hampir sekitar 6 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai. Hotel di Yerussalem untuk mereka telah disiapakan FDO TV.

Ada sensasi lain yang dirasakan Aisyah ketika sampai di Bumi para Mujahid. Hatinya tenang tapi bergemuruh seolah hendak menyuruh melakukan sesuatu. Aroma angin yang khas tanah Arab melenakan pikiran dan jiwa Aisyah, hingga melayang mencari-cari sumber kehidupan. Terdengar olehnya suara-suara yang samar, yang merintih dan mengharap tapi semuanya hilang begitu saja. Apa ini? Pikir Aisyah.

Dikamar hotel, Aisyah teringat pesan ibunya. Dia membuka bungkusan yang terbungkus rapi dikopernya. Bungkusan itu berisi beberapa helai busana panjang khas perempuan-perempuan Arab lengkap dengan kerudungnya. Setelah membersihkan diri, dia mengenakan busana yang ada dibungkusan itu dan memilih busana warna coklat pekat. Penampilannya kini telah berubah.

”Ya Allah, inilah aku yang sebenarnya…”

Aisyah berjalan menuju lobi hotel dan bertemu dengan Robert.

”Apa yang terjadi padamu Aisyah?” tanya Robert keheranan melihat penampilan Aisyah.

”Aku rasa tidak ada yang terjadi padaku, Robert!”

”Penampilanmu? Mana pakaianmu yang dulu?”

”Sudah aku buang!”

Robert tambah bingung, ”Kau mau kemana?”

”Aku akan ke Masjidil Aqsa!”

”Sendiri? Apa kau tidak takut?”

”Pada siapa aku harus takut Robert? Kepada warga disini? Mereka suadaraku, saudara seagamaku! Aku pergi!”

Aisyah meninggalkan Robert yang masih bingun dan keheranan. Dia melangkahkan kakinya pelan-pelan. Tadi dia merasa asing tapi sekarang dia telah mulai rileks.

Sesampainya dimasjid yang bekubah emas, Aisyah ditegur oleh seorang lelaki tua, untung sediki banyak Aisyah mengerti bahasa Arab.

”Kau mau kemana?” ujar lelaki tua itu.

”Aku hendak ke Masjidil Aqsa!”

”Tapi mengapa kau berdiri dihalaman masjid ini?”

”Tapi bukankah ini Masjidil Aqsa? Tanya Aisyah heran.

”Masyaallah, kau ini warga Palestina atau bukan?” Laki-laki tua itu marah pada Aisyah yang dianggapnya orang palestina. ”Kalau kau benar-benar orang Palestina, seharusnya kau tahu yang mana masjidil Aqsa yang agung itu!”

”Aku tidak tahu maksud anda?”

”Benar-benar Yahudi biadab telah menghapus pikiran pemuda-pemudi Islam. Itulah Masjidil Aqsa, bukan ini.” laki-laki tua itu menunjuk kearah masjid berwarna Biru yang tidak begitu jauh dari masjid berkubah emas tadi.

Laki-laki tua itu meninggalkan Aisyah sambil terus mengoceh sendiri. Aisyah cuma terpaku.

”Astagfirullah. Ampunilah aku ya Allah…Begitu banyak pemikiran-pemikiranku yang telah teracuni oleh zionis biadab itu.” ratap Aisyah dalam hati.

Adzan Dzuhur berkumandang. Aisyah malangkahkan kakinya menuju masjid yang ditunjuk laki-laki tua tadi. Aisyah masuk, dan seketika itu juga tubuhnya lemah, dia menangis, jatuh dan bersujud.

Aisyah masih tidak percaya bahwa dia ada didalam Masjidil Aqsa tempat Nabi Muhammad singgah yang kemudian terbang kelangit ketujuh dalam perjalan Isra’ Mi’raj untuk menjemput shalat. Adzan membuat hatinya pilu, luka dan terharu. Jiwanya kembali segar dan tersadarkan. Dia berdoa memohon ampun kepada Allah.

Keesokan harinya, Aisyah bersiap-siap. Bersama Robert dia akan berangkat ke Jalur Gaza.

Selama perjalanan tak henti-hentinya Aisyah berdoa dan menangis. Robert disebelahnya tidak dihiraukan. Tujuh jam perjalanan, akhirnya mereka sampai.

Gersang dan mencekam. Itulah yang pertama kali menyambut kedatangan mereka.

Aisyah kembali mendengar suara yang samar itu, terdengar seperti rintihan dan pengharapan. Dia kembali mencoba mencari sumber suara itu, tapi semuanya hilang begitu saja.

Roket-roket Israel terus terdengar menembak sudut-sudut kota di Gaza, tank-tank baja telah mulai masuk. Mayat-mayat bergelimpangan. Aisyah terpana melihat semuanya, hatinya hancur.

”Kau siap Aisyah?” tanya Robert.

”Insyaallah.” Aisyah menahan hatinya.

”1…2…3…OK!” Robert mulai mengambil gambar.

”Pemirsa, hingga hari ke tujuh ini disuasana Gaza kembali. Roket-roket terus menghantam dan tank-tank baja telah mulai memasuki kota. Disana terlihat anak-anak dan pemuda Palestina menghadang mobil yang dinaiki tentara Israel dengan melemparkannya dengan batu-batu kerikil….”

Aisyah sudah tidak tahan. Dibelakangnya tentara Israel terus menembak membabi buta, salah satu anak-anak yang ikut menghadang tewas oleh tembakan mereka.

”Robert, aku sudah tidak tahan lagi…” Aisyah menyerahkan microphone nya kepada Robert yang masih sibuk mengambil gambar.

”Aisyah kau mau kemana?” seru Robert.

”Aku akan menolong mereka!”

”Apa yang kau lakukan, kita sedang bekerja!”

I am a Moslem, Robert, aku harus membantu saudara-saudaraku…”

Aisyah berlari kearah anak-anak itu. Dia membantu anak-anak memasukkan teman mereka yang terkena tembakan tadi ke ambulans milik Bulan Sabit Merah.

”Aisyah…kembali…!!!” teriak Robert.

Aisyah tak memperdulikan teriakan Robert. Dikumpulnya batu-batu kerikil, ”Allahuakbar…” Aisyah melempar batu-batu itu kearah mobil tentara Israel tersebut. Demi melihat Aisyah melempar batu, anak-anak dan pemuda-pemuda tadi juga kembali ikut melempar batu.

”Cepat kita berlindung disana, sepertinya salah satu diantara mereka akan menembak kearah sini…” teriaka Aisyah memberi komando.

Sementara itu di studio FDO TV, semua orang terkejut melihat tindakan Aisyah dimonitor-monitor studio. Liputan yang secara langsung ditayangkan itu menjadi kacau.

”Apa yang terjadi?” Tuan Broke memasuki studio.

”Tidak tahu kenapa, Aisyah berhenti siaran dan pergi membantu anak-anak Palestina menghadang tentara Israel!”

”Apa mau nya perempuan itu?”

”Tuan Broke, bagaimana ini?” tanya salah satu operator.

”Cepat, hapus liputan itu. Tayangkan comercial break!” perintah sang Pemimpin Redaksi.

”Baik Tuan!”

Tuan Broke menelpon Robert, ” Robert, apa yang terjadi dengan Aisyah?”

”Tidak tahu Tuan, saya juga bingung.” jawab Robert diujung telpon.

”Cepat kamu tahan dia.”

”Tidak bisa Tuan, saya tidak bisa bergerak kearahnya. Tentara Israel terus menembak kearah mereka…”

Dirumah keluarga Wilson, keharuan pecah, liputan dari anak mereka yang walau cuma sebentar telah membuat mereka menumpahkan airmata keharuan.

”Itu yang Papa inginkan Anakku…” ujar Tuan Abdullah.

”Ya Allah…Lindungilah anakku dan saudara-saudara kami disana…” Nyonya Fatma terus menangis.

Aisyah terus mengatur strategi bersama kawan-kawan barunya.

”Kau siapa?” tanya slah satu pemuda kepada Aisyah.

”Aku Aisyah, reporter TV asal Amerika.”

Wajah anak-anak dan pemuda-pemuda tadi menunjukan kekurangsenangan mereka, tapi Aisyah tahu dan berkata, ”Aku seorang muslim. Dan aku akan membantu dan berjuang bersama kalian.”

”Subhanallah…subhannallah…” teriak mereka serentak. Satu per satu dari merekapun memperkenalkan diri.

Aisyah terharu dan menangis, tapi semangatnya tetap membara, ”Baiklah, saudaraku mereka terus menembak kita, dan kita tidak mungkin terus berdiam diri berlindung disini. Kita harus menyerang. Aku punya strategi!”

”Apa itu Aisyah?” tanya Ahmed, salah satu pemuda diantara mereka.

”Kalian para anak-anak, tetap lempar mereka dengan ketapel batu. Yang memegang panah berpencarlah kesegala penjuru, dan tunggu komando dariku dan kita akan menyerang mereka. Aku, Aman, Salma, dan Kauf, akan melempar mereka dengan bom molotov ini. Bagaimana?”

”Baiklah.”

Sesuai dengan komando dari Aisyah mereka mulai memencar, dan berlindungan di benteng masing-masing.

”Teman-teman bersiaplah…”

Semua mengangguk.

”Serbuuuuu….”

Allahuakbar….Allahuakbar….gema takbir terdengar keluar dari mulut-mulut mereka. Mereka menyerang mobil patroli tentara Israel, tanpa gentar sedikitpun. Bom molotov membakar mobil mereka. Dua orang tentara terlihat berdarah kepalanya akibat tembakan ketapel dari anak-anak. Pasukan panah juga tak tinggal diam, satu orang tentara tewas. Pasukan patroli Israel kalang kabut, dan mereka akhirnya pun pergi. Seganas-ganasnya api, akan tetap bisa dipadamkan oleh air yang dingin. Sontak mereka bergembira, musuh telah pergi.

Robert yang dari tadi melihat kejadian itu masih merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aisyah yang dikenalnya sebagai perempuan lembut, mampu membuat kabur tentara-tentara Israel.

Z Z Z

”Aku harap hari ini kau tidak buat kegilaan itu lagi Aisyah. Kemarin aku dimarah habis-habisan oleh Tuan Broke, apalagi ketika dia melihat penampilanmu yang sudah berubah.” ujar Robert ketika hendak berangkat meliput di hari kedua.

”Apa kau bilang? Aku gila?” Aisyah tersenyum sinis, ”Setiap orang, siapun itu kalau punya hati pasti akan tergerak untuk membantu saudara-saudaranya yang tertindas.”

”Aku tahu. Tapi tujuan utama kita kesini adalah membuat liputan untuk FDO TV.”

”Mungkin itu untuk kau, tapi untuk aku tidak.”

”Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu.”

”Terserah. Aku juga tidak ingin kau untuk mengetahui jalan pikiranku.”

”Aku mohon kau jangan lakukan itu lagi ketika kita sedang meliput.”

”Haruskah aku jelaskan untuk kedua kalinya padamu, aku adalah muslim. Ingat itu.”

Suara ledakan masih terdengar dimana-mana. Mobil-mobil ambulans milik Bulan Sabit Merah berlalu-lalang membawa korban-korban kebiadaban Israel.

Aisyah dan Robert mulai berkerja. Mereka meliput disekitar sekolah PBB yang hancur oleh serangan Israel. Robert nampak puas, melihat rekannya kembali seperti sediakala.

”Untuk hari ini kita selesai Aisyah. Aku akan memproses video ini dan mengirimkanya kekantor lewat setelit.”

”Baiklah Robert. Tinggalkan aku sendiri. Aku akan berjalan-jalan dulu disini.”

”Kau harus hati-hati, serangan roket Israel bisa mengenaimu kapan saja. Dan juga jangan kau lakukan hal gila lagi, aku masih mebutuhkanmu untuk liputan besok.” ujar Robert memperingati.

”Bukan urusanmu Robert.”

Aisyah berjalan-jalan disekitar reruntuhan sekolah PBB yang roboh. Dia ikut membantu anak-anak mencari puing-puing yang masih bisa mereka pergunakan.

Aisyah meninggalkan sekolah itu. Dia pergi menuju sebuah gudang yang telah tidak terpakai lagi.

Betapa terkejutnya Aisyah ketika mendengar suara rintihan yang menyayat pilu. Suara itu berasal dari dalam gedung. Seorang perempuan hamil tergeletak lemas, dengan baju pada bagian perut terbuka. Seorang tentara bersiap-siap menyayat-nyayat perutnya dengan pisau tajam.

”Umi…Umi…!!!” terdengar teriakan seorang laki-laki yang terikat tangan dan kakinya di sudut ruangan. ”Akan aku bunuh kau, Yahudi Jahanam apabila kau sedikit saja melukai istriku.”

Ternyata, laki-laki itu adalah suami dari perempuan hamil yang akan disayat perutnya oleh tentara Israel. Betapa kejinya, seoang istri kan dorobek-robek perutnya yang sedang mengandung dihadapan suaminya sendiri.

Aisyah memutar otak, apa yang dapat dia lakukan. Dilihatnya tentara Israel yang hanya sendiri tertawa terbahak-bahak dan bersiap-siap untuk melakukan niat buruknya.

Ilham Allah datang pada Aisyah. Dia ditunjukkan oleh Allah sebongkah kawat berduri tergeletak begitu saja dihadapannya. Aisyah meraihnya, dan bersiap-siap menyerang. Secara perlahan-lahan Aisyah berjalan menuju tentara itu, dan…AAAKKKHHHH… tentara itu berteriak kesakitan, wajahnya penuh darah akibat hantaman dari Aisyah. Aisyah terus menghantam bongkahan kawatnya, dan akhirnya tentara itu jatuh terkapar.

Aisyah menolong perempuan hamil itu dan suaminya yang sedang terikat.

”Mari ikut aku. Aku tahu tempat sembunyi. Kelihatannya tentara ini tidak mati, tapi cuma pingsan walaupun benturan kawat berduri darimu cukup keras. Sewaktu-waktu dia akan kembali mecari kita.” kata Laki-laki itu

Aisyah membantu laki-laki itu membawa istrinya yang lemah.

”Saya Rahman, dan ini istri saya, Zahra.”

”Saya Aisyah!”

”Terima kasih kau telah menolong kami Aisyah.” ujar Zahra yang masih lemah.

”Ayo cepat, nanti tentara itu bangun dan mengejar kita.”

Mereka berlari meninggalkan tentara Israel yang telah terkapar. Hati-hati sekali mereka berlari, takut dihat oleh musuh yang terus berpatroli. Rahman membawa Aisyah dan istrinya masuk keadal sebuah lubang yang tersembunyi dibalik sebuah tumpukan batu bata. Ternyata lubang itu adalah jalan menuju terowongan bawah tanah.

”Rahman, ada apa ini? Apa yang terjadi dengan kau dan istrimu?” seorang wanita paruh baya menyambut mereka.

“Tadi kami disandera tentara Yahudi. Tapi kami selamat atas bantuan Ukhti Aisyah ini!” jawab Rahman.

Umi Laila melirik pada Aisyah, “Siapa dia Rahman, mengapa kau sembarangan membawa orang masuk ketempat rahasia ini? Sepertinya dia bukan orang kita, wajahnya tidak mirip dengan wajah orang Arab pada umumnya!”

“Ada apa ini? Apa yang terjadi?” seorang Laki-laki tua bersorban putih keluar menghampri mereka.

Rahman dan Zahra menceritakan kejadian yang menimpa mereka tadi.

“Jadi kau yang telah membantu anak dan menatuku. Terima kasih banyak.” Kata laki-laki itu. “Saya, Ayob Ash’rifai!”

“Jadi anda Ayob Ash’rifai?”

“Ya, kenapa?”

“Tidak apa-apa. Nama anda terasa familiar sekali ditelinga saya.”

“Ceritakan tentang dirimu!”

“Saya Aisyah Nur Al-Kamil. Saya orang Amerika.”

“Apa? Amerika?” Umi Laila terkejut.

“Iya. Umi, saya adalah reporter sebuah TV di Amerika yang mendapat tugas disini. Dan saya adalah Muslim. Saya tahu anda pasti mengira saya mata-mata.”

“Saya kira tidak ada muslim asli warga Amerika!”

“Ada banyak Umi, terlebih pasca serangan 11 September. Warga Amerika banyak datang ke Islamic Centre untuk mempelajari Islam dan menjadi mualaf.”

“Subhanallah…”

“Apa anda masih tidak percaya denganku?” Aisyah terus mencoba meyakinkan.

“Insya Allah kami percaya.”

“Alahamdulillah.”

Memang orang-orang di Palestina selalu hati-hati dengan orang asing. Terutama orang yang berasal dari Amerika. Mereka takut orang asing yang datang adalah mata-mata CIA atau MOSSAD.

“Beginilah keadaan kami Aisyah. Hidup mengatur strategi melawan musuh dirumah bawah tanah.” Kata Zahra.

“Mengatur strategi?”

“Ya. Kami adalah pejuang HAMAS!”

“Subhanallah, Ya Allah Kau pertemukan aku dengan para pejuang-pejuang-Mu” seru Aisyah.

“Situasi diatas semakin kacau. Israel terus mengempur, tapi respon dunia tidak ada sama sekali.” kata Rahman.

“Bagaimana dengan negara-negara Arab? Mereka saudara kita?”

“Cis. Saudara apa? Apakah tega seorang saudara melihat saudaranya bersimbah darah? Arab saudi, Mesir, Turki dan lain-lainnya hanyalah simbol negara yang mengatasnamakan diri berlandaskan Islam, tapi setiap kebijakannya telah dikomando dan diatr oleh Zionis biadab. Mereka cuma boneka” ucap Syekh Ayob berapi-api, “Mereka takut, apabila mereka bertindak maka embargo dari Amerika akan menjatuhkan mereka.”

“Tapi menurut saya, HAMAS seharusnya bersatu dengan Fattah! Itulah yang dapat mewujudkan harapan Palestina yang mardeka.” Aisyah menambahkan.

“Bersatu dengan Fattah? Itu mustahil. Sama dengan negara-negara Arab, anakku, orang-orang Fattah telah diatur Zionis. Mereka menempuh upaya diplomasi, tapi untuk apa menempuh jalur itu, kalau setiap perjanjian selalu dilanggar oleh Zionis. Hanya satu yang dapa mengakhiri, yakni hanya melawan dan menyerang. Dan itulah yang HAMAS lakukan selama ini, karna kami yakin janji Allah kepada kita Umat Islam akan segera datang, walaupun kita belum tahu kapan akan datang. Tapi kita harus tetap bersabar.”

Aisyah terharu. Dia meneteskan airmata. Dia berpikir betapa kuatnya semangat dari orangtua yang rambutnya telah memutih dan wajah yang mulai keriput ini. Sedangkan dia, apa yang dapat dia lakukan untuk saudara-saudaranya yang tertindas. Terlintas dipikirannya perkataan Ayahnya sebelum dia berangkat.

“Syekh. Saya siap berjihad bersama kalian.”

“Apa kau yakin?”

“Demi Allah. Saya siap. Saya siap melawan Yahudi, dengan cara apapun. Termasuk bom bunuh diri!” jawab Aisyah terus menangis.

“Jihad bukanlah perkara siap atau tidak siap. Tapi, apakah kita ikhlas untuk melakukannya.” Kata Umi Laila.

“Bagaimana, dengan keluargamu Aisyah, apa mereka juga ikhlas? Percuma saja bila hanya kau saja ikhlas melakukan Jihad tapi keluagamu tidak.” tambah Zahra.

“Demi Allah. Saya dan juga keluarga saya ikhlas.”

“Subhanallah…Allahuakbar…Allahuakbar….”

Z Z Z

Beberapa hari Aisyah tinggal dirumah bawah tanah itu. Dia dan yang lainnya mengatur strategi untuk meyerang musuh dan mencari waktu yang tepat untuk melakukan perlawanan.

“Baiklah. Nama operasi kita kali ini adalah “Operasi Putih”. Mudah-mudahan kia berhasil.” Syekh Ayob memberi komando. “Anakku kau kembalilah keatas. Dan bila hatimu telah mantap, maka kembalilah lagi kesini Jumat besok. Insya Allah, kita akan hancurkan Yahudi pada hari itu.”

Aisyah mengangguk. Dan diapun kemudian kembali keatas. Dia kembali bertemu dengan Robert.

“Aisyah kemana saja kau menghilang selama ini? Tuan Broke menanyakamu setiap hari. Katanya apabila kau juga tidak kembali, maka kau akan digantikan dengan reporter lain.”

Aisyah hanya diam.

“Kamu tahu, akibat ulahmu kemarin FDO TV turun rating, kita menjadi bua-bualan stasiun TV lain.” tambah Robert.

“Katakan kepada Tuan Broke, aku menyatakan diri berhenti drai FDO TV.”

“Apa yang kau katakan? Bagaimana dengan karirmu?”

“Dulu memang aku mengharapkan karir yang cemerlang. Tapi mulai hari ini, mimpiku hanya satu, yakni mimpi bertemu dengan Allah, Tuhanku, dengan jiwa yang suci dan bersih. Dan itu aku akan aku wujudkan. Tekadku telah bulat.”

“Aduh Aisyah, kau bicara apa ini aku tidak mengerti?”

“Sahabatku, suatu saat kau pasti akan mengerti. Aku juga berharap kau akan lakukan hal sama seperti aku, walaupun itu susah bagimu.”

“Apa kau akan ikut menbantu orang-orang Palestina dengan melempar mobil-mobil Israel dengan batu lagi?”

Aisyah kembali diam.

“Lebih dari itu. Robert, terima kasih atas kebersamaan nya selama ini. Dan berikan surat ini pada keluargaku.” Aisyah memberikan secarik kertas kepada Robert, “Doakan aku biar aku bisa bertemu Tuhanku.”

Aisyah meninggalkan Robert yang terus memutar otak untuk dapat mencerna kata-kata nya yang membuat Robert bingung.

Jumat yang di Nanti…

“Saya siap syekh…”

“Baiklah anakku. Kau tidak sendiri. Rahman dan istrinya Zahra juga akan berjihad bersamamu.”

“Aisyah melirik pada Zahra.

“Ini adalah kapsul yang berisi kan chip yang bisa membuat ledakan besar.” Syekh Ayob memberikan kapsul kepada mereka, “Dan masing-masing dari kalian pegang hanphone ini, tombol nomor satu adalah tobol yang akan meledakkan kapsul itu. Sekarang telan lah kapsul itu.”

Aisyah, Rahman dan Zahra yang sedang hamil menelan kapsul itu bersama-sama.

“Baiklah. Strategi kita adalah masing-masing dari kalian berpencar. Kalian harus berjalan kebenteng-benteng musuh dan kemudian meledakan diri.”

“Baik” jawab mereka bertiga serentak.

“Semoga kalian syahid dijalan Allah.

“Amin….!!!”

Mereka kembali naik keatas. Sementara itu Israel terus mengempu Gaza dari segala arah, darat, udara dan laut. Korban-korban mulai kembali berjatuhan, gedung-gedung, rumah-rumah dan fasilitas umum lainnya kembali hancur.

“Zahra, kenapa kau juga melakukan ini? Bagaimana dengan calan bayimu?” tanya Aisyah.

“Insya Allah, Aisyah, aku, suamiku dan calon bayiku akan syahid dan bertemu disurga.”

Aisyah terharu melihat keteguhan hati Zahra, seorang perempuan yang sedang hamil ikut berjihad da akan meledakkan dirinya.

“Ingat, apabila telah berbunyi ledakan pertama diutara beart aku telah syahid, maka istriku lakukan tugasmu dengan baik di selatan. Dan kau Aisyah, bila telah mendengar ledakan di utara dan selatan, maka bersiap-siapalah, dan lakukan tugasmu. Handphone yang diberikan ayah tadi akan memberikan informasi apakah kapsul ditubuh kita telah meladak atau belum”

Mereka selanjutnya berpisah.

Aisyah melangkah hati-hati sambil terus waspada dari serangan roket Israel. Dia menuju kearah barat, disana terdapat kamp tempat tentara Israel tinggal.

“Saya, wartawati dari FDO TV Amerika Serikat. Boleh saya masuk!” Aisyah mulai menjalankan tugasnya sambil menunjukkan tanda pengenalnya.

“Geledah dia!” perintah seorang tentara kepada tentara wanita.

Aisyah kemudian diperiks secara intensif.

“Dia bersih, Pak!”

“Silahkan masuk!!!”

Alhamdulillah…Aisyah semula takut tidak diperkenankan masuk, apalagi bila para tentara melihat penampilannya yang memakai pakaian panjang dan kerudung yang membalut seluruh tubuhnya.

Beberapa jam disana, Aisyah tampak gelisah. Dia belum mendapat informasi dari handphone nya. Beberapa menit kemudian, handphone-nya memberikan informasi bahwa di utara bom telah meledak.

“Innalillhahi wa Innalillahiroji’un….Rahman telah syahid”

Aisyah terus melakukan wawancara dengan para tentara. Dia terus memberikan pertanyaan supaya menghilangkan kecurigaan atas dirinya.

“Kau orang Amerika, kenapa kau berpakaian seperti ini?” tanya seorang tentara yang kelihatannya sedang mabuk. Kau saudara kami bukan?”

Aisyah hanya diam. Najis aku besaudara dengan kau yahudi keparat, pikirnya. Dia terus melanjutkan wawancaranya. Hatinya terus dikuatkan.

Beberapa saat kemudian, handphonenya memberi tanda baha bom di selatan telah meledak.

“Sampai jumpa Zahra, sekarang giliranku…”

Seorang tentara menghadap Komandannya, “Komandan, kami mendapat laporan kamp kita di utara dan selatan meledak karna bom bunuh diri. Semuapasukan kita tewas. Kekuatan bom diperkirakan lebih dahsyat dari serangan bom HAMAS sebelumnya.”

“Kini giliranku yan Allah…”

Aisyah bersiap-siap. Dia lalu berdiri dan berteriak. “YA ALLAH SAMBUTLAH AKU….ALLAHUAKABAR…..” semua tentara terkejut. Aisyah lalu menekan tombol nomor satu di handphone-nya, dan DHHHUAAARRRR….seketika itu juga kamp tentara Israel hancur luluh lantak tak bersisa sama sekali. Sekitar 30 orang tentara Israel yang menghuni kamp itu tewas. Dan Aisyah syahid. Aroma melati menyeruak keudara.

Pada Jumat pagi itu, sembilan puluh empat orang tentara Israel dilaporkan tewas oleh bom bunuh diri Aisyah, Rahman dan Zahra.

Z Z Z

“Assalamu’alaikum….

Ayah…Ibu…mereka boleh saja tertawa tapi aku dan kita umat muslim di dunia yang memiliki hati tidak akan tingal diam. Boleh saja mereka meninjak-injak harga diri kita, tapi dengan bantuan Allah kita akan terus melawan.

Surat ini adalah surat terakhir dariku. Karna aku mungkin tidak akan kembali lagi ke pangkuan kalian. Allah telah menanamkan dihatiku sebuah kalimat yakni, JIHAD FISABILILLAH. Sungguh ayah, ibu, setelah aku menulis surat ini aku akan melangkah menjemput asa yang dimimpi-mimpikan umat muslim, yakni, mati Syahid dijalan Allah.

Jangan sekali-kali kalian meneteskan airmata, karna kepergianku bukan karna kesia-siaan belaka. Tapi aku disini, ditanah para nabi, ikut berjuang membantu saudara-saudara kita yang tertindas oleh bangsa kera, Zionis-Yahudi terlaknat.

Ayah…Ibu ikhlaskan lah diriku. Karna dengan keikhlasan kalian, aku akan bertemu dengan Allah dalam keaadaan tenang dan suci.

Tetap bantu saudara-saudara kita yang tertindas, tidak hanya di palestina, tapi disetiap tempat saudara-saudara kita yang lainnya, walaupun sebesar zarrah, Allah akan menghitungnya….

Ayah..Ibu aku menunggu kalian…

Assalamualakum…

AISYAH

Tangis ayah dan Ibu Aisyah pecah setelah membaca suratnya yang dititipkan pada Robert. Walau isi surat itu meminta agar mereka untuk tidak menangis, tapi sebagai orangtua, mereka tetap pilu hatinya akan kepergian anak mereka.

“Anakku. Selamat jalan. Ayah dan ibu ikhlas melepas kepergianmu mengahadap ALLAH YANG MAHA BESAR….”

Desa Kungkai, 02 Februari 2009

Anggun Mursika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: